Ibuprofen Tidak Membuat Gejala COVID-19 Makin Parah

Ibuprofen Tidak Membuat Gejala COVID-19 Makin Parah

Ibuprofen Tidak Membuat Gejala COVID-19 Makin Parah – Pada masa awal pandemik lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa pasien COVID-19 sebaiknya tidak mengonsumsi obat berjenis ibuprofen. Sebab, kandungan di dalamnya diduga bisa membuat gejala semakin parah.

Namun, studi baru yang diterbitkan di jurnal PLOS Medicine yang terbit pada 8 September 2020 membuktikan bahwa ibuprofen tidak memperburuk kondisi pasien COVID-19. Jadi, obat tersebut sejauh ini aman untuk dikonsumsi. Berikut ini penjelasannya!

1. Ibuprofen merupakan obat pereda nyeri dan peradangan

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu diketahui bahwa ibuprofen termasuk ke dalam jenis obat-obatan golongan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). Ini merupakan obat yang umum digunakan untuk meredakan nyeri dan peradangan. Karena bisa meredakan kedua hal itu, kegunaan ibuprofen pun beragam. Mulai dari mengatasi sakit gigi, demam, radang sendi, hingga nyeri haid.

Efek samping yang dimiliki ibuprofen umumnya tidak berat, seperti kembung, diare, dan mual. Ada pula efek lain dalam jangka panjang seperti gangguan ginjal, aritmia, hingga komplikasi usus.

Namun, pada Maret lalu, sebuah studi mengungkapkan bahwa obat ini dan jenis NSAIDs lainnya bisa menimbulkan efek yang berlawanan ketika dikonsumsi oleh pasien COVID-19.

2. Klaim awal ibuprofen dan hubungannya dengan COVID-19

Di masa awal pandemik, klaim WHO tentang penggunaan ibuprofen dan obat NSAIDs lainnya didasarkan pada studi yang diterbitkan BMJ berjudul “Non-steroidal anti-inflammatory drugs and covid-19”. Peneliti mengatakan bahwa NSAIDs dapat memicu risiko infeksi berulang oleh bakteri di paru-paru yang akibatnya fatal.

Itulah kenapa peneliti menyarankan tenaga medis dan masyarakat untuk menghindari konsumsi ibuprofen dan NSAIDs lainnya. Alternatif lain yang disarankan sebagai pengganti obat tersebut adalah parasetamol dengan dosis yang dianjurkan.

3. Ibuprofen diduga bisa meningkatkan enzim ACE2

Klaim di atas muncul bukan tanpa alasan. Ibuprofen dan NSAIDs diduga mampu meningkatkan jumlah ACE2. Ini merupakan enzim yang diklaim menjadi tempat awal infeksi SARS-CoV-2.

Melansir Sbobet Casino, konsumsi obat yang meningkatkan ACE2 diduga akan membuat kondisi pasien semakin buruk. Hipotesis ini juga tertera di dalam studi BMJ di atas. Akan tetapi, peningkatan ACE2 karena NSAIDs diperoleh dari eksperimen pada tikus. Belum ada bukti kuat bahwa hal yang sama juga terjadi pada manusia.

4. Studi terbaru mengatakan bahwa NSAIDs dan ibuprofen tidak memiliki efek buruk pada pasien COVID-19

Studi baru yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine pada 8 September 2020 juga menemukan bahwa tidak ada bukti yang jelas mengenai hubungan antara penggunaan ibuprofen dengan semakin parahnya kondisi pasien COVID-19.

Meneliti 9.236 pasien COVID-19 di Denmark. Sebanyak 2,7 persen di antara mereka mengonsumsi NSAIDs selama 30 hari. Ternyata, data menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kondisi yang signifikan di antara keduanya.

Peneliti menyebutkan secara spesifik bahwa penggunaan NSAIDs tidak memiliki hubungan dengan dirawatnya pasien di rumah sakit, ICU, penggunaan ventilator, hingga kematian karena COVID-19.

5. Jadi, apakah ibuprofen aman untuk dikonsumsi?

Berdasarkan penelitian di atas dan studi lain yang telah dilakukan, ibuprofen dan NSAIDs sejauh ini aman untuk dikonsumsi bagi pasien COVID-19. Namun, tenaga medis dan masyarakat tidak boleh menganggapnya benar-benar aman. Kenapa demikian?

Perlu diingat bahwa COVID-19 adalah penyakit pernapasan yang juga bisa memengaruhi ginjal, sistem pencernaan, jantung, otak, dan organ-organ lain. Sementara, ibuprofen dan NSAIDs memiliki efek samping yang bisa berpengaruh terhadap ginjal, sistem pencernaan, dan jantung.

Satu Lagi Vaksin Corona yang Bakal Didistribusikan Sebelum Akhir 2020

Satu Lagi Vaksin Corona yang Bakal Didistribusikan Sebelum Akhir 2020

Satu Lagi Vaksin Corona yang Bakal Didistribusikan Sebelum Akhir 2020 – Pfizer menambah satu daftar vaksin Corona yang diprediksi bisa didistribusikan sebelum akhir tahun 2020 di Amerika Serikat. CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan hal ini bisa direalisasikan jika vaksin sudah terbukti aman dan efektif.
“Jika FDA menyetujui vaksin ini, perusahaan siap untuk mendistribusikannya sampai ratusan ribu dosis,” kata Bourla yang dikutip dari Sbobet Casino

Para pejabat kesehatan dan pembuat obat di Amerika Serikat sudah mempercepat pengembangan kandidat vaksin dengan berinvestasi dalam penelitian tersebut. Meskipun hal ini bisa saja sia-sia jika vaksin yang dihasilkan tidak efektif dan aman. Perusahaan tersebut telah bekerja sama dengan produsen obat dari Jerman, yaitu BioNTech.

Vaksin buatan Pfizer ini mengandung materi genetik yang disebut messenger RNA atau mRNA. Para ilmuwan berharap materi genetik ini bisa membuat sistem kekebalan tubuh melawan virus Corona pada manusia.

Pfizer merupakan satu dari tiga perusahaan yang saat ini sedang dalam pengujian tahap akhir untuk vaksin Corona. Dua perusahaan lainnya yaitu Moderna dan AstraZeneca yang belum lama ini kembali melanjutkan uji cobanya setelah sempat terhenti karena alasan keamanan.

Pfizer sudah mengajukan proposal ke FDA untuk bisa memperluas uji coba tahap akhirnya dengan bantuan dari 44.000 peserta relawan vaksin. Jumlah ini meningkat secara signifikan dari target sebelumnya, yaitu sebanyak 30.000 peserta.

Vaksin Virus Corona

Selain itu, sembilan perusahaan obat, termasuk Pfizer juga merilis surat perjanjian yang akan memprioritaskan keselamatan dan menjunjung tinggi ‘integritas proses ilmiah’, dalam pengembangan vaksin virus Corona.

Vaksin virus Corona COVID-19 yang dikembangkan perusahaan biofarmasi China siap digunakan untuk umum pada November mendatang.

Wu Guizhen, kepala ahli biosekuriti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China. Mengatakan masyarakat sudah mulai bisa menerima suntikan vaksin COVID-19 di awal November setelah uji klinis fase III diklaim berjalan dengan lancar.

Wu menambahkan telah mendapat suntikan vaksin pada bulan April dan merasa baik selama beberapa bulan terakhir. Meskipun dia tidak menyebutkan secara spesifik kandidat vaksin COVID-19 mana yang telah dia ambil.

Deretan Obat yang Direkomendasikan untuk Pasien Covid-19

Deretan Obat yang Direkomendasikan untuk Pasien Covid-19

Deretan Obat yang Direkomendasikan untuk Pasien Covid-19 – Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan ada sejumlah obat yang bisa digunakan untuk menangani pasien Covid-19. Obat ini merupakan rekomendasi dari lima asosiasi dokter spesialis di Indonesia.

Yakni, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), dan Persatuan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI). Lima asosiasi dokter spesialis ini telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebelum menerbitkan alur penanganan penderita Covid-19.

Melansir dari Agen IDN Poker “Di situ disampaikan bahwa untuk pasien dengan gejala ringan selain isolasi mandiri diberikan beberapa obat salah satunya vitamin yaitu vitamin C, antivirus dan beberapa antivirus yang memiliki potensi untuk menyembuhkan Covid-19,” jelas Wiku dalam konferensi pers.

Asosiasi dokter spesialis juga merekomendasikan Remdesivir, Favipiravir, Lopinavir-ritonavir, Oseltamivir dan Paracetamol. Untuk menangani pasien-pasien yang mengalami demam lebih dari 38 derajat celcius. Sedangkan Klorokuin dan Azithromycin bisa digunakan untuk mengobati pasien dengan gejala sedang.

Harus dengan Anjuran Dokter

Wiku menambahkan, asosiasi dokter spesialis memperbolehkan penggunaan antikoagulan apabila ada potensi terjadinya penggumpalan darah pada tubuh pasien Covid-19.

“Sedangkan untuk gejala berat atau kritis digunakan Kortikosteroid dan antibiotik spektrum luas sesuai dengan perkembangan klinisnya,” sambungnya.

Mantan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 ini menegaskan, pengggunaan obat-obat tersebut harus atas anjuran dokter. Masyarakat tidak boleh mengonsumsi obat atas inisiatif sendiri.

“Kami sampaikan ini dengan maksud adalah agar seluruh dokter yang ada di Indonesia, tenaga kesehatan betul-betul dapat memilih pengobatan yang terbaik. Khusus untuk masyarakat, ini hanya sekadar pengetahuan karena obat-obatan hanya diberikan atas rekomendasi dokter dan tidak untuk dikonsumsi atas inisiatif sendiri,” tutupnya.

Temukan Obat COVID-19

Sebelumnya, tim peneliti dari Universitas Airlangga Surabaya. Badan Intelijen Negara (BIN) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) menemukan tiga kombinasi obat penawar COVID-19.

Ketiga kombinasi obat adalah Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin, Lopinavir/Ritonavir dan Doxycycline, serta Hydrochloroquine dan Azithromyci.