Fakta COVID-19 Juga Berbahaya bagi Anak Muda Bukan Hanya Orang Tua

Fakta COVID-19 Juga Berbahaya bagi Anak Muda Bukan Hanya Orang Tua

Fakta COVID-19 Juga Berbahaya bagi Anak Muda Bukan Hanya Orang Tua – Wabah COVID-19 masih terus merebak. Jumlah kasus kian hari kian meningkat dan ditambah dengan adanya informasi bagaimana virus SARS-CoV-2 itu mengalami mutasi menjadikan pandemik ini tidak bisa disepelekan.

Ada satu fakta tambahan lagi dari COVID-19 yang baru-baru saja ditemukan, yaitu tak hanya untuk orang lanjut usia, penyakit ini sama berbahayanya bagi pemuda. Journal of the American Medical Association menyebutkan dalam salah satu artikelnya para penderita dewasa muda juga riskan mendapatkan kondisi parah. Berikut ini adalah informasi yang didapat seputar COVID-19 di kalangan para pemuda.

1. Satu dari lima penderita COVID-19 anak muda masuk dalam perawatan intensif

Berdasarkan jurnal yang melakukan studi kepada para penderita COVID-19 yang berusia 18 sampai 34 tahun. Ada kecenderungan penderita penyakit tersebut mendapatkan perawatan intensif. Angkanya mencapai 20 persen yang mana 10 persennya sampai mendapatkan perawatan ventilasi mekanis. Sedangkan untuk angka kematian di antara pemuda tersebut mencapai tiga persen.

Walaupun angka mortalitasnya masih lebih rendah daripada penderita lanjut usia. Namun tetap saja kasus-kasus serangan jantung akibat COVID-19 di kalangan pemuda masih meningkat. Itu membuktikan bagaimana mereka yang muda-muda pun tidak bisa terhindar dari tingkat fatalnya wabah ini.

2. Komplikasi masih menjadi gerbang risiko mendapatkan COVID-19 yang mematikan

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan para orang lanjut usia punya risiko yang lebih tinggi meninggal karena COVID-19, jika punya penyakit lain. Diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, semua itu adalah penyakit yang mampu meningkatkan risiko mortalitas atau kondisi parah.

Efek komplikasi ini ternyata tak hanya berlaku untuk orang tua saja, tetapi juga anak muda. Menurut studi yang sama, angka risiko kondisi COVID-19 yang parah akibat komplikasi bagi anak muda setara dengan kondisi penderita dewasa paruh baya yang tidak mendapatkan komplikasi. Oleh karena itu pengawasan lebih lanjut perlu diperhatikan.

3. Obesitas menjadi faktor terbesar COVID-19 yang parah di kalangan anak muda

Dalam kasus Amerika Serikat, CDC mengumumkan obesitas menjadi isu kesehatan yang serius. Hampir 40 persen populasi di sana mendapatkan kondisi ini.

Koneksi obesitas dengan COVID-19 yang semakin parah adalah obesitas menyebabkan pernapasan pada seseorang terganggu. Gangguan tersebut diakibatkan karena tertutupnya gerakan diafragma atau perut akibat penimbunan obesitas itu.

“Kami juga mengetahui obesitas menambah risiko adanya pembekuan darah yang mana diasosiasikan dengan kondisi COVID-19 yang parah,” ujar Dr. Robert Glatter dari Lenox Hill Hospital di New York, kepada Healthline. Alhasil, kondisi beku darah itu dapat menyebabkan pendarahan yang berlebihan pula.

4. Selain itu, pemuda sering kali mengabaikan imbauan melakukan jaga jarak

Euro News memberitakan adanya laporan yang menyalahkan anak muda berusia 20 sampai 30 tahunan sebagai faktor utama penyebaran kasus COVID-19 di Eropa sana. Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, menyebut angka kenaikan penularan virus SARS-CoV-2 itu disebabkan anak muda yang tidak mempedulikan imbauan jaga jarak.

Pada Agustus 2020 lalu pula, terdapat data yang mengatakan adanya peningkatan kasus baru COVID-19 hingga 40 persen dan itu terjadi pada kelompok anak muda di Spanyol. Data lebih lanjut dari Euro News menunjukkan setidaknya pada Maret kemarin dari 1.000 pasien berumur 20 hingga 40 tahunan yang masuk ke ICU di Prancis, setidaknya 5 persen lebih mendapatkan perawatan intensif.

5. 25 persen dari anak muda penderita COVID-19 juga berisiko mendapatkan efek jangka lama

Lebih lanjut lagi, Agen IDN Poker pernah memaparkan bahwa satu dari empat anak muda penderita COVID-19 masih mendapatkan gejala penyakit tersebut, walau sudah berlangsung satu minggu lebih dari kesembuhan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa para pemuda tersebut tidak pulih seperti sedia kala sebelum terjangkit. Walau mereka tidak punya catatan kesehatan yang lain dan tidak dirumahsakitkan.

Catatan penting dari masalah ini adalah adanya kemungkinan hingga 35 persen penderita anak muda itu tidak kembali ke kondisi semulanya walau sudah 14 hingga 21 hari lamanya. Rata-rata dari gejala itu adalah dalam bentuk batuk dan kelelahan.

Ibuprofen Tidak Membuat Gejala COVID-19 Makin Parah

Ibuprofen Tidak Membuat Gejala COVID-19 Makin Parah

Ibuprofen Tidak Membuat Gejala COVID-19 Makin Parah – Pada masa awal pandemik lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa pasien COVID-19 sebaiknya tidak mengonsumsi obat berjenis ibuprofen. Sebab, kandungan di dalamnya diduga bisa membuat gejala semakin parah.

Namun, studi baru yang diterbitkan di jurnal PLOS Medicine yang terbit pada 8 September 2020 membuktikan bahwa ibuprofen tidak memperburuk kondisi pasien COVID-19. Jadi, obat tersebut sejauh ini aman untuk dikonsumsi. Berikut ini penjelasannya!

1. Ibuprofen merupakan obat pereda nyeri dan peradangan

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu diketahui bahwa ibuprofen termasuk ke dalam jenis obat-obatan golongan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). Ini merupakan obat yang umum digunakan untuk meredakan nyeri dan peradangan. Karena bisa meredakan kedua hal itu, kegunaan ibuprofen pun beragam. Mulai dari mengatasi sakit gigi, demam, radang sendi, hingga nyeri haid.

Efek samping yang dimiliki ibuprofen umumnya tidak berat, seperti kembung, diare, dan mual. Ada pula efek lain dalam jangka panjang seperti gangguan ginjal, aritmia, hingga komplikasi usus.

Namun, pada Maret lalu, sebuah studi mengungkapkan bahwa obat ini dan jenis NSAIDs lainnya bisa menimbulkan efek yang berlawanan ketika dikonsumsi oleh pasien COVID-19.

2. Klaim awal ibuprofen dan hubungannya dengan COVID-19

Di masa awal pandemik, klaim WHO tentang penggunaan ibuprofen dan obat NSAIDs lainnya didasarkan pada studi yang diterbitkan BMJ berjudul “Non-steroidal anti-inflammatory drugs and covid-19”. Peneliti mengatakan bahwa NSAIDs dapat memicu risiko infeksi berulang oleh bakteri di paru-paru yang akibatnya fatal.

Itulah kenapa peneliti menyarankan tenaga medis dan masyarakat untuk menghindari konsumsi ibuprofen dan NSAIDs lainnya. Alternatif lain yang disarankan sebagai pengganti obat tersebut adalah parasetamol dengan dosis yang dianjurkan.

3. Ibuprofen diduga bisa meningkatkan enzim ACE2

Klaim di atas muncul bukan tanpa alasan. Ibuprofen dan NSAIDs diduga mampu meningkatkan jumlah ACE2. Ini merupakan enzim yang diklaim menjadi tempat awal infeksi SARS-CoV-2.

Melansir Sbobet Casino, konsumsi obat yang meningkatkan ACE2 diduga akan membuat kondisi pasien semakin buruk. Hipotesis ini juga tertera di dalam studi BMJ di atas. Akan tetapi, peningkatan ACE2 karena NSAIDs diperoleh dari eksperimen pada tikus. Belum ada bukti kuat bahwa hal yang sama juga terjadi pada manusia.

4. Studi terbaru mengatakan bahwa NSAIDs dan ibuprofen tidak memiliki efek buruk pada pasien COVID-19

Studi baru yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine pada 8 September 2020 juga menemukan bahwa tidak ada bukti yang jelas mengenai hubungan antara penggunaan ibuprofen dengan semakin parahnya kondisi pasien COVID-19.

Meneliti 9.236 pasien COVID-19 di Denmark. Sebanyak 2,7 persen di antara mereka mengonsumsi NSAIDs selama 30 hari. Ternyata, data menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kondisi yang signifikan di antara keduanya.

Peneliti menyebutkan secara spesifik bahwa penggunaan NSAIDs tidak memiliki hubungan dengan dirawatnya pasien di rumah sakit, ICU, penggunaan ventilator, hingga kematian karena COVID-19.

5. Jadi, apakah ibuprofen aman untuk dikonsumsi?

Berdasarkan penelitian di atas dan studi lain yang telah dilakukan, ibuprofen dan NSAIDs sejauh ini aman untuk dikonsumsi bagi pasien COVID-19. Namun, tenaga medis dan masyarakat tidak boleh menganggapnya benar-benar aman. Kenapa demikian?

Perlu diingat bahwa COVID-19 adalah penyakit pernapasan yang juga bisa memengaruhi ginjal, sistem pencernaan, jantung, otak, dan organ-organ lain. Sementara, ibuprofen dan NSAIDs memiliki efek samping yang bisa berpengaruh terhadap ginjal, sistem pencernaan, dan jantung.

Satu Lagi Vaksin Corona yang Bakal Didistribusikan Sebelum Akhir 2020

Satu Lagi Vaksin Corona yang Bakal Didistribusikan Sebelum Akhir 2020

Satu Lagi Vaksin Corona yang Bakal Didistribusikan Sebelum Akhir 2020 – Pfizer menambah satu daftar vaksin Corona yang diprediksi bisa didistribusikan sebelum akhir tahun 2020 di Amerika Serikat. CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan hal ini bisa direalisasikan jika vaksin sudah terbukti aman dan efektif.
“Jika FDA menyetujui vaksin ini, perusahaan siap untuk mendistribusikannya sampai ratusan ribu dosis,” kata Bourla yang dikutip dari Sbobet Casino

Para pejabat kesehatan dan pembuat obat di Amerika Serikat sudah mempercepat pengembangan kandidat vaksin dengan berinvestasi dalam penelitian tersebut. Meskipun hal ini bisa saja sia-sia jika vaksin yang dihasilkan tidak efektif dan aman. Perusahaan tersebut telah bekerja sama dengan produsen obat dari Jerman, yaitu BioNTech.

Vaksin buatan Pfizer ini mengandung materi genetik yang disebut messenger RNA atau mRNA. Para ilmuwan berharap materi genetik ini bisa membuat sistem kekebalan tubuh melawan virus Corona pada manusia.

Pfizer merupakan satu dari tiga perusahaan yang saat ini sedang dalam pengujian tahap akhir untuk vaksin Corona. Dua perusahaan lainnya yaitu Moderna dan AstraZeneca yang belum lama ini kembali melanjutkan uji cobanya setelah sempat terhenti karena alasan keamanan.

Pfizer sudah mengajukan proposal ke FDA untuk bisa memperluas uji coba tahap akhirnya dengan bantuan dari 44.000 peserta relawan vaksin. Jumlah ini meningkat secara signifikan dari target sebelumnya, yaitu sebanyak 30.000 peserta.

Vaksin Virus Corona

Selain itu, sembilan perusahaan obat, termasuk Pfizer juga merilis surat perjanjian yang akan memprioritaskan keselamatan dan menjunjung tinggi ‘integritas proses ilmiah’, dalam pengembangan vaksin virus Corona.

Vaksin virus Corona COVID-19 yang dikembangkan perusahaan biofarmasi China siap digunakan untuk umum pada November mendatang.

Wu Guizhen, kepala ahli biosekuriti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China. Mengatakan masyarakat sudah mulai bisa menerima suntikan vaksin COVID-19 di awal November setelah uji klinis fase III diklaim berjalan dengan lancar.

Wu menambahkan telah mendapat suntikan vaksin pada bulan April dan merasa baik selama beberapa bulan terakhir. Meskipun dia tidak menyebutkan secara spesifik kandidat vaksin COVID-19 mana yang telah dia ambil.

COVID-19 RI Tembus 3 Ribu Kasus Perhari 7 Hari Berturut-turut

COVID-19 RI Tembus 3 Ribu Kasus Perhari 7 Hari Berturut-turut – Selama 7 hari berturut-turut, jumlah kasus harian virus corona Indonesia COVID-19 jumlah 3 ribu kasus rusak. Total konfirmasi positif sejauh terdaftar 221.523 kasus.

COVID-19 RI Tembus 3 Ribu Kasus

3 Ribu Kasus Perhari 7 Hari Berturut-turut – Penambahan kasus atas 3.000 per hari terjadi berturut-turut sejak September 2020. 8 Kemajuan Rincian kasus tersebut sebagai berikut:

September 8: menambahkan 3.046 kasus
Bulan September 9: menambahkan 3307 kasus
September 10: tambahnya 3.861 kasus
11 dunia: tambahnya 3737 kasus
September 12: 3806 kasus tambahkan
Bulan September 13: 3636 kasus tambahkan
September 14: 3.141 kasus menambahkan.

Pertumbuhan virus rincian Corona Indonesia pada Senin (2020/09/14), adalah sebagai berikut:

1. Kasus positif 3141 tumbuh 221.523

2. Pasien pulih dari tanaman 3395 158.405

3. Pasien meninggal meningkat 118-8841

Sebelumnya pada Minggu (2020/09/13), jumlah kasus positif COVID-19 virus Corona yang tercatat 218.382 kasus pulih 155.010, dan 8723 kasus meninggal.

Menteri Kesehatan Agus Putranto Terawan mengungkapkan persentase kasus penularan virus corona Indonesia. Pada 13 September 2020, kasus aktif rata-rata, untuk 25,02 persen.
Angka ini sebut sedikit lebih besar dari jumlah kasus yang aktif secara global sebesar 24,78 persen. Selanjutnya, untuk mencapai 155.010 kasus memulihkan pasien dengan tingkat pemulihan 71 persen.

“Pemulihan rata-rata sedikit lebih rendah daripada dunia 72 persen. Pemerintah juga bekerja keras untuk mengurangi angka kematian, rata-rata angka kematian Indonesia menurun dari 4,49 persen pekan lalu menjadi 3,99 persen,” katanya tekan melepaskan Presiden Sekretariat Youtube, Senin (14/09/2020).

Data COVID untuk 19 kasus infeksi per September 13, 2020 ada 218 382 kasus positif dengan 155.010 pasien sembuh dan 8723 Corona meninggal.

Dalam kesempatan tersebut, menurut http://thedehealth.com/ Menteri juga sebut COVID-19 RI Tembus 3 Ribu Kasus ketersediaan tempat tidur rumah sakit rujukan dari COVID-19 pasien. Jakarta, Menteri yang sebut pemerintah telah menyiapkan dua ruang isolasi untuk pasien menara COVID-19 tanpa gejala ringan atau tanpa gejala, dengan kapasitas 4218.