Manfaat Membaca Label Gizi pada Makanan Olahan

Manfaat Membaca Label Gizi pada Makanan Olahan

Manfaat Membaca Label Gizi pada Makanan Olahan – Tercetak dalam tulisan yang kecil dan monoton, label gizi pada makanan olahan sering kali diabaikan. Penelitian yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kepada 400 responden menemukan bahwa 69,4 persen masyarakat jarang membaca label gizi yang tertera pada makanan olahan.

Walaupun terdengar sepele, tindakan ini penting melakukan demi menjaga kualitas makanan yang kita konsumsi. Berdasarkan webinar bertajuk Cara Cerdas Memilih Produk Pangan dengan Logo #PilihanLebihSehat yang diadakan oleh Nestle , berikut ini lima manfaat membaca label gizi pada makanan kemasan.

1. Mengetahui nilai gizi yang dikandung makanan olahan

Tujuan dari hadirnya label gizi adalah sebagai sarana komunikasi antara produsen ke konsumen. Dengan membacanya, konsumen jadi tahu apa saja kandungan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya. Produsen pun tidak bisa berbohong akan apa yang tertera pada label karena hal ini pengawasan oleh BPOM.

2. Bisa membatasi konsumsi makanan olahan

Namun jika kita mengetahui kandungan gizi dalam makanan, secara otomatis kita bisa membatasi konsumsinya agar sesuai dengan kebutuhan tubuh sehari-hari. Misalnya, asupan lemak maksimal per hari adalah 70 gram, protein 0,8 gram per 2 kilogram berat badan, dan lain sebagainya.

Maka jika kita mengetahui kandungan gizi dalam makanan, secara otomatis kita bisa membatasi konsumsinya agar sesuai dengan kebutuhan tubuh sehari-hari. Misalnya, asupan lemak maksimal per hari adalah 70 gram, protein 0,8 gram per 2 kilogram berat badan, dan lain sebagainya.

3. Agar konsumsi gula, garam, dan lemak tidak berlebihan

Membaca label gizi pada setiap makanan olahan yang kita konsumsi bisa membantu membatasi asupan gula, garam, dan lemak (GGL) harian. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi gula, garam, dan lemak lebih dari batasan tersebut. Dr. Rimbawan memaparkan bahwa rata-rata konsumsi gula, garam, dan lemak pada masyarakat Indonesia masih kelebihan 30 persen. Salah satu penyebabnya adalah pengetahuan yang kurang dan malas untuk membaca label gizi makanan.

4. Terhindar dari risiko penyakit tidak menular

Melansir dari Daftar Live22 Implikasi dari konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih adalah meningkatnya risiko penyakit tidak menular (PTM). Antaranya adalah stroke, penyakit jantung, diabetes, gagal ginjal, dan lain sebagainya.

Penyakit-penyakit itulah yang banyak menyumbang angka kematian Indonesia. Dr. Rimbawan memberi tips untuk mengurangi risiko tersebut, yaitu dengan memperhatikan gizi dari makanan yang kita konsumsi.

5. Terdorong untuk mencari produk yang lebih sehat

Ini karena setelah membaca label pangan, mereka pun mengetahui kandungan gizi makanan olahan. Konsumen pun terdorong untuk memilih produk yang lebih rendah lemak, gula, dan natrium. Sebaliknya, mereka akan mencari produk yang kaya akan serat, zat besi, dan berbagai vitamin.

Salah satu cara mudah untuk memilih produk yang lebih berkualitas adalah melihat adanya label “Pilihan Lebih Sehat”. Hingga saat ini, produk yang bisa mendapatkan label tersebut adalah produk minuman kemasan, pasta, dan mi instan.